Ditulis oleh Hasan warga Surakarta

TRIBUNNEWS.COM,SOLO– Melihat usaha Polri mengejar dan meringkus para tersangka teroris hingga ke pelosok daerah, saya menilai sebagai langkah  yang efektif. Karena di daerah itulah doktrin teroris disampaikan secara eksklusif dari senior kepada yunior.

Kategori senior atau yunior tidak terukur oleh umur akan tetapi siapa lebih dulu bergabung dan lebih serius dalam grup eksklusif tersebut. Saya pernah mengikuti semacam “pengajian” kelompok mereka tahun 1995-1998 di daerah Boyolali, Solo dan Yogyakarta karena tertarik oleh ajaran atau ilmu yang disampaikan.

“Pengajian” sejenis ini memang terbuka untuk umum, tetapi anggota sudah terseleksi dengan sendirinya karena peserta dihadapkan pada pilihan antara “cocok” dan tidak cocok dengan materi maupun paham yang disampaikan. Setiap kali “pengajian” diikuti oleh sekitar 50 pemuda. Saya ikut kegiatan ini karena ingin mengambil ilmunya walau tidak sepaham dengan keyakinan mereka.

Peserta “pengajian” akan berhenti mengikuti ajaran ini jika merasa tidak cocok dan bertentangan dengan ajaran dasar agama yang telah diperoleh dari guru ngaji sebelumnya. Tapi bagi yang merasa cocok akan semakin aktif dan semangat mendalami ajaran itu karena yakin dengan “kesucian” cita cita mereka. Saya termasuk yang kurang aktif karena terkadang sakit hati oleh ajaran yang mereka sampaikan yang mengecam dan merendahkan ulama pada umumnya.

Kegiatan tersebut berpindah-pindah di masjid atau rumah yang bisa digunakan untuk penyampaian doktrin mereka. Dalam penyampaian doktrin itu, tentu “senior” juga menguasai ilmu agama yang beraliran keras merujuk kepada buku buku karangan sebagian Ulama Afghanistan, Arab Saudi, Yaman maupun Pakistan. Maaf tidak perlu saya sebutkan nama ulama itu dan nama ustad-ustadnya karena saya menduga Polri sudah mengetahuinya.

Saya waktu itu masih mahasiswa, ikut “pengajian” yang disampaikan oleh ustad terkenal di Solo, Yogya dan Boyolali. Saya lihat mereka maaf, kebanyakan berjenggot tebal, kumis sedikit, berjubah panjang, celana sebetis, tidak merokok, tidak memandang wajah perempuan bukan muhrim, tidak suka bergurau, serius dalam pembicaraan, tidak banyak tertawa dan membatasi pergaulan.

Inti dari doktrin itu antara lain, menegakkan jihad dengan cara mereka yaitu menghancurkan kekuatan Yahudi Israel, Amerika, NATO dan pemerintah Indonesia yang dipandang sebagai “thaghut” atau antek-antek mereka juga. Karena Indonesia dianggap sebagai “thaghut” maka mereka tidak suka kepada TNI Polri, PNS dan siapa pun yang mendukung pemerintah. Mereka juga tidak suka ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU maupun Muhammadiyah.

Jika mereka menikah, biasanya istri menggunakan penutup wajah atau hijab warna gelap, memiliki banyak anak, bekerja swasta, mandiri dan tergolong ekonomi lemah. Pemuda atau suami yang sudah sampai pada tingkatan tertentu, akan mengikuti “jihad” di Poso, Ambon atau Mindanau. Kemudian jenjang yang lebih tinggi lagi, mereka akan pergi ke Afghanistan untuk berperang di sana.

Dalam hal ini, setahu saya, biaya ditanggung sendiri dan keluarga ditinggalkan, walau istri ada yang hamil sekalipun. Sepulang dari “jihad” mereka bergabung lagi ke “pengajian” itu dan mendapat penghormatan dari kelompok itu karena doktrinnya sudah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Para “ustad” yang menyampaikan ajaran itu, biasanya sudah “lulus” dari jihad di luar negeri.

Ketika saya mengikuti “pengajian” itu belum pernah diajarkan cara merakit bom atau menggunakan senjata apa pun. Saya tidak tahu apakah waktu itu ada ajaran masalah pengeboman diantara mereka. Seingat saya, hanya diajarkan bela diri saja, itu pun saya tidak sempat mengikutinya karena merasa ada “ganjalan” yang bertentangan dengan hati nurani.

Selain menganggap pemerintah resmi Indonesia sebagai “thaghut” juga menilai orang orang Islam di luar kelompok mereka adalah kafir karena tidak sepaham. Maka anggota “pengajian” itu suka menjadi imam atau pemimpin di masjid atau surau karena mereka yakin bahwa hanya ajaran mereka yang benar.

Maka tak jarang, masjid akan menolak mereka menjadi imam atau pengurus. Karena dengan sikap mereka yang “kaku” dan eksklusif itu akan membuat masyarakat tidak suka dengan ajaran agama yang disampaikan. Dan dikhawatirkan, orang akan melihat bahwa Islam itu keras dan kaku sebagaimana yang mereka tampilkan di umum.

Di lingkungan masyarakat, anggota kelompok ini dikenal sebagai sosok yang sopan, saleh, rajin ibadah, tertutup dan tidak akrab dengan tetangga. Tapi diantara anggota “pengajian” itu sendiri sangat akrab melebihi kedekatannya dengan keluarga. Saudara atau orang tua mereka yang tidak sepaham dengan keyakinannya, juga dicap sebagai orang kafir. Bahkan kelompok ormas lain yang mencoba menghalangi gerakan “doktrin” mereka juga diperlakukan sebagai orang yang “halal” darahnya alias boleh dimusnahkan.

Untuk membicarakan hal hal tertentu, termasuk kebijakan dan strategi pengembangan, hanya tokoh-tokoh diantara mereka yang membahasnya di kamar tertutup. Sedangkan anggota “pengajian” yang masih baru atau pada tingkatan pemula tidak dilibatkan dalam pembicaraan itu. Saya tidak tahu apa yang dibahas mereka kala itu. Dan saya pun tidak tahu apakah diantara mereka adalah tersangka teroris yang sudah ditembak maupun ditangkap oleh Densus 88 Polri.  Karena memang mereka juga suka memilki nama samaran. (editor Iswidodo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s