Jakarta, NU Online
Banyak kelompok atau ormas Islam yang mengklaim dirinya sebagai mengikut ajaran ahlusunnah wal jamaah (aswaja). Banyaknya klaim ini bisa membingungkan bagi mereka yang masih awam. Bagi para kader NU, mereka harus memahami betul apa ciri-ciri aswaja ala NU ini.

Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdul Razak menjelaskan ajaran aswaja merupakan ajaran yang mengambil jalan tengah, dalam arti tidak mengikuti ideologi liberalisme yang berakar dari ajaran mu’tazilah yang mengagungkan akal atau fundamentalisme yang berakar dari ajaran khawarij, yang sangat tekstual, berkeyakinan, siapa yang tidak berhukum pada ayat Allah, maka kafir.

Imam Asy’ari melihat kedua ajaran yang sangat ekstrim, satu ke kiri dan satu ke kanan tersebut tidak baik untuk perkembangan umat Islam. Karena itu, ia mengembangkan sebuah jalan tengah dengan nama ahlusunnah wal jamaah.

“Salah satu keyakinannya adalah manusia memang memiliki kehendak, tetapi Allah yang menentukan,” katanya dalam pelatihan kader Muslimat NU Jakarta Selatan di Ponpes Miftahul Ulum di kawasan Gandaria Jakarta Selatan.

Ia menjelaskan, ciri aswaja ala NU yang membedakan dengan aswaja aliran lain adalah NU mengikuti akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah sementara dalam mazhab fikih mengikuti salah satu dari imam empat, yaitu Imam Syafii, Maliki, Hanbali atau Hanafi sedangkan dalam tasawwuf mengikuti al Ghozali dan Junaidi al Bagdadi.

“Secara fikih, NU mengizinkan perpindahan mazhab, tetapi tidak boleh melakukan talfiq atau mencampuradukkan mazhab untuk mencari kemudahan,” katanya.

Di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya, umat Islam mayoritas mengikuti mazhab Syafii yang dalam ajarannya cukup fleksibel, toleran dan memenuhi kebutuhan umat. Tak heran, mazhab ini boleh dikata memiliki pengikut terbesar di dunia.

Namun demikian, perbedaan paling menonjol dari ciri aswaja ala NU dan lainnya adalah pada rujukan hukumnya. Dalam mengambil rujukan hukum NU berpedoman pada empat hal, yaitu Qur’an, hadist, qiyas dan ijma sementara kelompok lain banyak yang mendasarkan diri hanya pada Qur’an dan hadist saja.

Dengan mendasarkan diri pada Qur’an dan Hadist saja, mereka menilai yang diluar itu dianggap sebagai bid’ah atau penyimpangan dan harus diberantas. “Tak heran, mereka yang hanya menggunakan Qur’an dan Hadist saja memiliki kecenderungan wahabi,” tambahnya.

Dengan hanya menggunakan dua pendekatan tersebut, akan banyak menghilangkan warisan budaya intelektual muslim dunia atau nilai-nilai lokal.

Banyak juga persoalan hukum yang tidak bisa diselesaikan jika tidak menggunakan qiyas. Ia mencontohkan, ketentuan zakat adalah menggunakan makanan pokok, yang ketika di Arab adalah gandum, tetapi di Indonesia harus diqiyaskan dengan menggunakan beras.

Mengenai ijma, ini merupakan kesepakatan ulama dalam satu persoalan, ia mencontohkan keputusan baru-baru ini tentang halalnya kopi luwak, yang disepakati oleh MUI. Tradisi sholat tarawih 20 rakaat juga merupakan ijma para sahabat nabi karena rasulullah hanya menjalankan tarawih 11 rakaat. (mkf)

Sumber Asli Klik Tautan ini :http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=24396

Kami sangat mengharapkan bantuan rekan2 Nahdliyin dan Member Fans Page ini Pada Umumnya untuk menyebarkan halaman ini di Facebook anda. Caranya -sangat sangat mudah-. Silahkan Klik “Share” atau “bagikan” atau “kongsi, dibawah bagian postingan ini. Klik Share/bagikan/kongsi. Semoga menjadi amalan pahala bagi anda semua, Amiin.